Kritik Arsitekur

Ada 3 macam metoda kritik dalam arsitektur, diantaranya kritik normatif, kritik deskriptif, dan kritik interpretif.

Kritik Normatif

Dalam kritik normatif ini, kritikus mempunyai pemahaman yang diyakini dan kemudian  menjadikan norma sebagai tolak ukur, karena kritik normatif merupakan salah satu cara mengkritisi berdasarkan prinsip tertentu yang diyakini menjadi suatu pola atau standar, dengan input dan output berupa penilaian kualitatif maupun kuantitatif.

Kritik normatif terbagi dalam 4 metode, yaitu

  1. Metode Doktrin
  2. Metode TIpikal
  3. Metode Terukur
  4. Metode Sistemik

Metode Doktrin

Merupakan metode yang dilihat dari aliran atau paham atau nilai-nilai sosial.

Contoh. Doktrin dari slogan dari Mies Van der Rohe yaitu ‘less is more’ berarti yang sedikit yang lebih baik. Dengan konsistensinya dalam mengeliminasi ornamen¬ornamen yang tidak penting dan juga bentukan-bentukan yang menghasilkan workspace yang tidak fungsional, Van der Rohe mampu menciptakan tabula rasa dari konsep dan ruang yang terbentuk dengan munculmya modernisme dan minimalisme.

Metode Tipikal

Yaitu suatu pendekatan yang mempunyai uraian urutan secara tersusun.

Contoh. Bangunan sekolah, tipe yang ada ialah seperti ruang kelas, ruang guru,ruang kepala sekolah, ruang kesenian,  lab, perpustakaan, kantin, gudang, toilet..

Metode terukur

Ukuran dijadikan sebagai patokan untuk menilai

Contoh. Papan partisi yang biasanya digunakan sebagai penyekat antar ruang kelas, penggunaan papan partisi yang berongga menyebabkan penataan pada akustik yang tidak baik.

Metode Sistemik

Penilaian digunakan dari sistem

Contoh. Sistem sirkulasi manusia pemakai lift…………

CONTOH KRITIK DALAM BENTUK FOTO

“MAAF…!!! JALAN ANDA TERGANGGU ADA GALIAN…!!!”

Siapa peduli dengan kata-kata tersebut terutama di kawasan pasar, tempat orang-orang melakukan transaksi jual beli juga sebagai tempat yang dilalui banyak kendaraan. Yang orang-orang fikirkan hal ini hanyalah menambah daftar kemacetan yang terjadi di area pasar.

Seharusnya jangan hanya ada permintaan maaf dalam tulisan saja, namun juga harus ada wujud nyata sebagai tanggung jawab dari akibat ‘gangguan’ seperti itu, salah satu caranya ialah dengan penggalian yang rapih seperti ditutup atau pemberian sekat pada bagian yang sedang di perbaiki, penyimpanan bahan material yang rapih dan lain sebagainya.


Gambar diatas merupakan potret  kecil dari kawasan kumuh di perkampungan yang berada di Jakarta Utara khususnya Koja, Tugu Utara.

Sangat kumuh ! Perkampungan berdiri diatas tanah yang berawa karena itu banyak air yang tergenang bahkan bisa mendatangkan banjir bila datang musim penghujan.

Bila dilakukan perbaikan kampung, maka kampung ini akan menjadi lebih baik bahkan sangat berpotensi untuk menjadi kawasan wisata (karena lokasi kampung tidak jauh dari Jakarta Islamic Center).

PEDESTRIAN

Pedestrian ‘seharusnya’ merupakan sarana yang memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki.

namun mari kita lihat pada contoh pedestrian yang terjadi pada gambar dibawah ini :

Pada kenyataan yang terjadi pada pedestrian yang ada, malah di alih fungsikan selain sebagai jalur pejalan kaki namun juga sebagai tempat berjualan. Sedangkan pada kasus yang terjadi pada gambar ke dua, pedestran yang ada terhalang oleh pohon yang tumbang dan di biarkan saja tanpa ada penanganan lebih lanjut (setelah saya amati langsung hal ini berlangsung lebih dari 3 hari, ckck😦 )

CONTOH KRITIK DALAM BENTUK SKETSA

Siapa sangka ini adalah bangunan masjid, karena biasanya bangunan masjid sangat khas dengan kubah, namun Masjid Al-Kautsar yang terletak di Kemang-Jakarta Selatan ini termasuk ke dalam bangunan tradisional Indonesia. Karena memiliki atap yang berundak dengan 3 tingkatan dan bangunannya yang seperti rumah panggung. Masjid ini di rancang oleh seorang arsitek bernama Ir. Zaenudin Kartadiwira, M.Arch

3 thoughts on “Kritik Arsitekur

  1. I am sure this post has touched all the internet people, its really really nice post on building up new web site. dfbbdekbbdkd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s