Perkembangan Arsitektur

Perkembangan Arsitektur

Kepulauan Mentawai

Kepulauan Mentawai terletak sekitar 100 km disebelah barat pantai pulau Sumatera. Kepulauan ini terisolasi sejak naiknya permukaan air laut yang bermula pada 500.000 tahun yang lalu. Yang terletak pada 1000 Bujur Timur Greenwich dan 50 Lintang Selatan di bawah khatulistiwa. Luasnya 6.700 km2. Di Kepulauan Mentawai tidak ada gunung, yang ada hanya perbukitan yang tingginya tidak melebihi 500 meter. Umumnya bertanah subur, datar serta berawa-rawa. Mentawai juga terkenal dengan hutan-hutannya yang masih alami. Di Mentawai Banyak terdapat sungai-sungai kecil, dan sarana perhubungan yang paling umum digunakan adalah melalui sungai.

Pulau Mentawai terdiri dari terdiri dari 40 pulau besar dan kecil. Diantaranya ada empat pulau besar yang didiami oleh manusia yaitu, Siberut di utara sebagai pulau terbesar namun berpenduduk paling sedikit, Sipora ditengah, Pagai Utara dan Pagai Selatan di bagian selatan.

Kepulauan Siberut merupakan salah satu daerah biosfir yang dilindungi UNESCO sejak 1981 karena kekayaan hutan, keunikan margasatwanya, dan tradisi serta kepercayaan masyarakat adatnya. Sebagian besar Siberut adalah dataran rendah berpaya-paya tanpa batu keras, sehingga kekayaan batu karang disepanjang pantai timur ‘ditambangi’ untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan untuk keperluan jalan, perumahan dan pangkalan kerja.

Masyarakat Mentawai

Masyarakat Mentawai menganut sistem Patrilineal yang disebut dengan Uma, yang berarti tempat tinggal. Uma didiami oleh beberapa orang yang masih berhubungan satu sama lain dalam hal keturunan, menjadi pusat kehidupan adat, yang mempersatukan.
Meskipun mereka mendirikan rumah lain di tempat yang jauh, namun komunikasi dengan Uma tetap ada, sebab Uma merupakan rumah induk.

Di Mentawai terdapat tiga macam rumah, yaitu:

  1. Uma
    Rumah besar yang menjadi rumah induk tempat penginapan bersama serta tempat menyimpan warisan pusaka, dan menjadi tempat suci untuk persembahan, penyimpanan tengkorak binatang buruan.
    Setiap kampung mempunyai Uma sendiri. Kepala Uma disebut Rimata, lambang pemimpin kehormatan, orang yang lebih arif mengenai hal-hal yang penting buat Uma, seseorang yang berbakat menjadi pemimpin.
    Uma adalah rumah besar yang berfungsi sebagai balai pertemuan semua kerabat dan upacara-upacara bersama bagi semua anggotanya.
  2. Lalep
    Tempat tinggal suami istri yang pernikahannya sudah dianggap sah secara adat. Biasanya lalep terletak di dalam Uma.
  3. Rusuk
    Suatu pemondokan khusus, tempat penginapan bagi anak-anak muda, para janda dan mereka yang diusir dari kampung.

Makanan

Umumnya orang Mentawai doyan memakan daging monyet, rusa, babi dan ayam. Pemotongan babi biasanya dilakukan pada waktu pesta (punen) besar, sebagai tanda pertalian hubungan manusia dengan alam roh.

Sedangkan makanan pokok orang Mentawai yang tinggal di pulau Pagai adalah keladi, sedangkan di Siberut yaitu sagu dan pisang.

Pakaian

Pakaian laki-laki adalah kabit (cawat). Sedangkan perempuan memakai rok yang terbuat dari daun atau kulit kayu. Sisa dari keratan-keratan pakaian biasanya diambil sebagai hiasan. Gigi sengaja diasah dan diruncing supaya tajam.

Seiring dengan perkembangan, sekarang masyarakat Mentawai sudah mengenal pakaian dari kain. Walaupun begitu, biasanya Kerei (dukun) jarang atau tidak pernah memakai pakaian dari kain.

Asal-Usul

Menurut Orang Mentawai sendiri, mereka berasal dari Nias. Keyakinan ini dilandasi oleh dongeng yang menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala seorang Nias bernama Ama Tawe pergi memancing ke laut. Sedang terapung-apung di tengah laut, turunlah badai dahsyat yang menyeret Ama Tawe terdampar ke Pulau Mentawai di tepi pantai barat Pulau Siberut. Ama Tawe naik ke darat dan ia melihat tanah yang amat subur. Pohon keladi dan sagu tumbuh sendiri tanpa ada orang yang menanam dan merawatnya. Ama Tawe kembali ke Nias untuk mengambil anak dan istrinya. Dia bermaksud pindah dari Nias dan akan menetap di Mentawai. Keberangkatannya ke tempat baru itu diikuti oleh banyak penduduk Nias lainnya yang ingin merantau ke Mentawai. Akhirnya, merekalah yang mendiami daerah itu.

Suku Mentawai memakan sagu dan tidak mengenal beras, sama-sama memakan monyet. Sedangkan perbedaannya terletak pada cara berburu. Untuk berburu mereka menggunakan panah beracun. Dan kebiasaan lain suku ini ialah merokok atau menyulut dengan tembakau.

Kepercayaan & Adat Istiadat

Kepercayaan

Orang Mentawai termasuk penganut aninisme, yang percaya kepada roh-roh. Segala sesuatu (benda) yang ada berjiwa. Tujuan dari kultus tersebut adalah agar diberi kesehatan dan umur panjang.
Timbulnya penyakit dianggap karena kekosongan jiwa. Kepergian jiwa untuk sementara, membawa akibat orang sakit. Untuk menyembuhkan penyakit itu diperlukan Kerei (dukun). Kematian berarti jiwa pergi menghilang untuk selama-lamanya.

Adat

Unsur-unsur yang kuat dalam menyatukan kebudayaan setiap rakyat adalah adat. “Arat” dalam bahasa dan kebudayaan Mentawai mencakup bermacam hal yang digolongkan kepada tradisi. Tradisi nenek moyang mutlak harus diterima tanpa gugatan, karena telah diperjuangkan dari masa ke masa, yang mendarah daging dalam kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, Arat menjadi norma bagi kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun dalam keluarga dan suku. Arat merupakan warisan suci, karena semenjak dahulu ditemukan oleh nenek moyang dan kelestariannya harus dijaga dengan baik.

Mentaati Arat berarti merelakan diri dibimbing oleh tradisi yang menjadi ukuran prima dalam setiap moralitas. Arat dijadikan landasan pokok dan norma dalam penentuan segalanya, manusia, binatang, fenomena alam dan rentetan waktu.

Arat bagi masyarakat Mentawai adalah keselarasan dengan dunia, pemersatu dengan Uma dan jaminan hidup yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman.

Agama / Kepercayaan

Kepercayaan Mentawai termasuk ke dalam Arat. Kumpulan dan himpunan dari upacara-upacara disebut dengan “Arat Sabulungan“. Sabulungan berasal dari kata bulu yang berarti daun. Bahan-bahan untuk perangkat upacara keagamaan itu banyak menggunakan dedaunan dan ranting-ranting pepohonan.

Macam-macam sabulungan:

  1. Taikamanua
    roh yang hidup di udara dan langit
  2. Taikapolak
    roh yang bertempat tinggal di bumi
  3. Taikabaga
    roh yang hidup di bawah tanah
  4. Roh-roh yang khusus menjaga binatang
    a.Taikaleleu
    -Samajuju, sebagai pelindung rusa
    -Taikatengaloina, pelindung binatang yang ada di atas pohon
    b.Taikbagakoat
    Pelindung bintanag di laut

Walaupun sekarang masyarakat Mentawai sudah memeluk agama, namun pada hakekatnya kepercayaan Arat Sabulungan belum terkikis habis di lubuk hati orang Mentawai. Salah satu contohnya adalah kepercayaan terhadap obat si kerei, lebih ampuh dan manjur ketimbang obat-obatan modern dan puskesmas.

Oleh sebab itu, corak keagamaan di Mentawai disebut Bikultural, bersama-sama dengan resmi, hidup dengan agama asli yang digolongkan ke dalam aliran kebatinan.

Mata Pencaharian

Khususnya di Pulau Siberut adalah berkebun dan berladang di pinggir hutan yang berawa-rawa. Meski demikian, hutan di masa lalu pasti menjadi sumber penghidupan dengan berburu. Pada dinding uma dan para-para, digantungkan puluhan tengkorak babi hutan, monyet dan kulit ibat laut (kura-kura) yang menandakan berapa kali pesta diadakan di uma itu. Ikatan sosial sangat nyata ketika mereka mendapat hasil buruan, betitu pula pola konsumsi mereka yang secara tidak langsung tetap menjaga keseimbangan alam. Begitu hasil buruan tiba di uma, obbuk dan bolobok ―sejenis alat musik dari kayu― dibunyikan untuk mengumpulkan saudara sesuku. Daging hasil buruan pun harus dibagi sesuai aturan; pelanggaran dianggap bisa mendatangkan petaka: akan terkutuk menjadi buaya, lambang ketamakan. Maka, jumlah buruan pun menjadi terbatas sesuai kebutuhan. Secara etis mereka harus membagi daging hasil buruan kepada suku tetangganya, jika pembagian daging buruan di lingkungan suatu suku, diketahui suku tetangganya.

Secara tradisional, orang Mentawai menanam sagu, memelihara babi dan mengumpulkan rotan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Mentawai memiliki sumber daya potensial nabati dan botani yang dapat dijadikan untuk pembangunan daerah dan masyarakat secara keseluruhan.

Tarian

Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, memiliki budaya suku asli yang masih terjaga. Salah satunya tarian turuk uliat. Tarian tersebut ekspresi masyarakat Mentawai dalam menghargai dan penggambaran keselarasan manusia dengan alam sekitaranya.

Tari Mentawai yang dikenal dengan tarian uliat ini banyak macamnya, dan pada umumnya menirukan atau memperagakan gerakan binatang yang ada di alam. Uliatpun ada macamnya seperti halnya uliat bilou, uliat manyang dan lainnya. Selain itu juga uliat yang ada ini di tarikan atau bersumber dari daerah di mana mereka berada, seperti halnya masyarakat yang ada di pesisir pantai maka mereka akan meniru dan memperagakan gerakan burung camar (uliat manyang), sedangkan masyarakat yang berada di sekitar hutan akan menirukan gerakan monyet (uliat bilou). Dan ada pula tari turuk pok-pok dan galagau.

sumber..

http://www.puailiggoubat.com/?kanal=pendidikan&id=5023

http://berita.liputan6.com/sosbud/200911/251925/Turuk.Uliak.Tarian.Tingkah.Laku.Binatang

http://siberut.tripod.com/indonesia/anaileoita.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s